Ironi Way Kanan, Islamic Center Rp15,6 Miliar Jadi Monumen Kegagalan Pemerintah

Blambangan Umpu – Gedung megah yang dulu diharapkan menjadi pusat peradaban Islam di Way Kanan, kini justru menjadi monumen keterbengkalaiannya sendiri. Islamic Center Way Kanan yang dibangun dengan dana fantastis APBD sebesar Rp15,6 miliar, kini dibiarkan mangkrak, gelap, dan menyeramkan.

Warga Blambangan Umpu mempertanyakan kemana anggaran perawatan gedung yang sejatinya menjadi simbol keagamaan dan kebanggaan ibu kota Way Kanan itu. Gedung yang dibangun pada 2009 dengan tujuan mulia—sebagai tempat edukasi, ibadah, hingga musyawarah umat Islam kini justru menjadi tempat tak layak dan tak terurus.

Baca Juga  Jum’at Curhat di Baradatu, Satbinmas Polres Way Kanan Sambangi Mahasiswa Institut Al Ma'arif

“Gedung itu gelap gulita di malam hari, kumuh, bahkan jadi tempat muda-mudi pacaran. Kalau begini, lebih cocok disebut tempat horor ketimbang Islamic Center,” ujar Agus, warga sekitar, dengan nada kesal.

Kondisi bangunan sangat mengenaskan. Dinding mulai ditumbuhi tanaman liar, tiang-tiang dililit semak belukar, halaman terbengkalai, dan tidak terlihat satu pun aktivitas keagamaan atau pembinaan masyarakat di sana. Malah, menurut warga, bangunan itu lebih sering digunakan untuk kegiatan yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.

Baca Juga  Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Way Kanan, Machiavelli HT, S. STP., M.Si melantik pengurus PGRI Kecamatan Way Tuba.

Agus melanjutkan, “Malam hari kerap terlihat pasangan muda-mudi nongkrong di sana. Bahkan ada yang diduga berbuat mesum di area gedung. Ini sangat memalukan bagi Way Kanan.”

Gedung ini sejatinya juga dirancang sebagai tempat pemberangkatan calon jemaah haji, tapi kondisi saat ini tidak mencerminkan bangunan sakral dan representatif. Alih-alih menjadi pusat kegiatan spiritual, kini masyarakat justru enggan mendekat karena gelap, sunyi, dan menyeramkan.

Masyarakat pun mendesak Bupati Way Kanan agar tidak terus menutup mata. Bangunan sebesar itu bukan hanya soal angka dan beton, tapi menyangkut martabat dan tanggung jawab moral pemerintah daerah terhadap warganya.

Baca Juga  Tragis, Guru Muda di Mesuji dihabisi Kekasih Sendiri

“Kalau memang sudah tidak mampu merawat, lebih baik diberikan ke lembaga yang mampu memfungsikannya dengan benar. Jangan sampai ini jadi bangunan mati tak bernyawa,” tutup Agus dengan kecewa.(eng/ZP Tim)