Way Kanan — Pemandangan memprihatinkan kembali tersaji di jantung pemerintahan Kabupaten Waykanan. Bukan hanya lapangan upacara yang dibiarkan terbengkalai, taman kota yang berdiri megah tepat di depan rumah dinas Bupati Waykanan pun kini berubah wajah dari ikon kebanggaan menjadi simbol keterlantaran dan agak menakutkan seolah ditinggalkan oleh pemiliknya.
Rumput liar merayap tak terkendali, bangku-bangku rusak membisu, dan fasilitas yang dulu memancarkan keceriaan kini lapuk dimakan waktu. Ironisnya, semua ini berdiri hanya sepelemparan batu dari kantor para pengambil kebijakan daerah mereka yang seharusnya menjadi garda terdepan menjaga wajah kota.
“Dulu ramai, sekarang cuma bikin sedih. Pedagang rugi, pengunjung malas datang,” keluh seorang warga, menatap taman yang dulu menjadi tempat berkumpul dan bersantai.
Taman ini dibangun dengan dana APBD, dimaksudkan sebagai etalase keindahan Waykanan. Namun pasca Pilkada, wajahnya berubah drastis. Dari simbol kemajuan menjadi monumen keterlantaran. Pertanyaannya, jika halaman depan rumah sendiri saja tak terurus, bagaimana dengan fasilitas publik di sudut-sudut pelosok yang jauh dari pandangan?
Kini, taman kota Waykanan berdiri seperti cermin buram: memantulkan realitas tata kelola daerah yang tak seindah baliho kampanye, dan mengingatkan warga bahwa janji manis bisa layu lebih cepat daripada rumput yang tumbuh di musim hujan.(eeng)

Selengkapnya
Kelangkaan Pertalite dan Solar di Way Kanan Dikeluhkan Warga, Harga Eceran Tembus Rp14 Ribu
Pengendalian PMK Diperkuat, Pemprov Lampung Genjot Vaksinasi dan Edukasi Peternak Jelang Iduladha 2026
Pantau Arus Balik Lebaran 1447 H, Polres Way Kanan Himbau Pengguna Jalan dan Sampaikan Layanan 110